23 Juni 2016
" Huh, hari yang cukup melelahkan. Sejak insiden kecil itu. Insiden yang membuat batin saya benar-benar menahan amarah. Karena perlakuan mereka yang sangat bodoh tanpa memikirkan dimana mereka sedang berada.
Ketika banyak orang-orang disana. Namun saya pikir hanya saya yang merasakan sesaknya mendengar perkataan mereka. Yang merasa muak dan tingkah laku mereka yang sok berkuasa. Saya pikir hanya saya yang memahami dan merasakannya sendiri ketika sangat jelas terdapat orang lain dihadapan saya.
Saya salah, dan saya beruntung.
Finally! Ditengah-tengah kegeraman batin saya, ternyata tersembunyi orang-orang yang sama seperti saya. Mereka hanya takut mengungkapkannya karena sama seperti saya. Berpikir bahwa hanya mereka sendiri yang merasakan.
Kami sama, dan kami sudah saling mengerti sangat jelas bagaimana rasa kesal kami kepada mereka.
Dear, orang-orang penguasa!
Apa kalian tidak mengerti apa itu toleransi? Kami tahu Anda dan kalian adalah sosok penguasa untuk kali ini. Kami tahu itu. Tapi sayang, kalian bodoh, karna kalian menggunakan kekuasaan kalian diatas pengetahuan kalian yang terbatas, diatas sikap kalian yang munafik.
Saya merasa beruntung ketika mengetahui masih ada yang merasakan ke-angkuhan mereka. Ternyata insiden itu yang merasakan gerahnya batin karna celotehan mereka ada selain saya. Andaikan kalian para penguasa mengetahui, betapa bodohnya kalian mengikuti urusan kami. Membuat kami jengkel. Tapi untungnya kami masih bisa menjaga amarah kami. Kami muak! Sangat muak! Dengan ke-sok tau-an kalian sendiri berusaha menjatuhkan kami didepan khalayak. Jika saja kami tidak menahan lagi kehormatan kalian, tidak dapat lagi menahan amarah kami. Kami dapat membuang dan menginjak-injak kehormatan kalian sendiri didepan khalayak. Ya, karna kebodohan kalian sendiri.
Dear, orang-orang sok penguasa!
Kami dapat menerima perlakuan kalian jika saja itu ada dalam skenario. Tapi apa? Ini diluar skenario! Jadi wajar saja bila kami merasa seperti ini. Bukannya kami terlalu membawa tentang perasaan kami karna kami telah merasa tersinggung atau apa lah. Tapi kami hanya menjunjung harga diri kami.
Dear, orang-orang yang merasa dirinya diagungkan!
Tolong, jangan campuri urusan kami. Sudah jelaskan sampai mana kalian harus sok berkuasa? Ini bukan lagi ranah kalian. Jika sekali lagi kalian masih bersikap keras diranah kami, kami khususnya saya sendiri berani membawa ini kejalur yang bisa membahayakan harga diri kalian sendiri.
Ini bukan sebuah ancaman. Ini hanya semacam kritik kami. Terserah kalian akan merasa atau paham atau tidak. Atau kalian mengerti namun menolak. Ya, sekali lagi, penguasa sesungguhnya bukan kalian dan saya bisa membawa masalah ini keranah yang dapat menjatuhkan kalian sendiri!
Saya hampir lupa. Apakah kritikan saya ini akan sampai ke telinga kalian? Pasti tidak!
Mana ada seorang sok penguasa akan menerima celoteh ecek-ecek dari kami, hah? Apa perlu kami, khususnya saya menyampaikan ini kepada Anda?
Anda yang selalu diagung-agung kan oleh mereka. Anda yang sebelumnya meminta saya untuk mereka. Saya yakin jika Anda yang menyampaikannya setidaknya mereka akan mendengarnya meskipun sedikit.
Suatu saat nanti. Ketika waktu akan memberi saya kesempatan untuk menyampaikan ini. Akan saya sampaikan segera.
Karna bukan saya saja yang merasakan kebodohan mereka.
Bukan saya saja yang merasakan ke-sok tau-an mereka.
Tunggu waktu yang benar-benar tepat.
Dan saya akan menyampaikannya!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar