Minggu, 24 April 2016

My Invisible Shouts


24 April 2016
"Mungkin saya harus menyerah pada hidup saya, membiarkan kalian menginjak-injak saya, mengatakan sesuka hati kalian. Memang benar saya sudah tak layak lagi ada disini. Saya seharusnya tidak pernah bersama kalian. Akan sekuat apapun saya, pada akhirnya saya hanya menjadi yang terbuang dan terabaikan. Mungkin cukup sampai disini saya berpura-pura kuat dihadapan kalian. Saya lelah harus mengukir senyum untuk kalian semua yang tak tahu diri. Saya hancur, berkeping-keping, dan berantakan!

Apakah kalian tidak pernah merasa puas? Anda kurang puas dengan keadaan saya yang seperti ini? Merana, dikelilingi wajah-wajah munafik seperti kalian, berpura-pura peduli sebenarnya Anda sangat acuh, saya sudah hancur! Saya sudah putus asa, dan menyerah dengan hidup saya! Terserah kalian mau bilang apa, tapi ini saya, dan kalian yang membuat saya seperti ini!

Sudah berapa lama saya simpan semua kebencian saya. Berusaha menghapus semua kebencian itu sendiri. Bertahan dengan selengkungan senyum. Tertawa bersama kalian. Tapi kalian tidak pernah tahu bahwa ada luka besar disini! Menganga, dan sangat pedih! 

Saya selalu mencoba bertahan. Tetap berdiri meski caci dan maki selalu datang menghujat. Mengubur semua sakit hati itu sendirian. Membalas kalian dengan sebuah senyuman. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Dan saat ini mungkin ujungnya. Saya sudah tidak mampu menahan lagi. Saya lelah berpura-pura. Menjadi kuat dan terhebat. Saya lelah dengan hukum timbal balik yang seperti ini. Saya merasa kosong. Tidak tahu saya harus bagaimana. Saya menjalani hidup seakan-akan hanya formalitas yang dipenuhi dengan kepedihan.

Saya sendiri.
Saya hancur.
Saya berantakan.
Saya lelah jika harus berteriak tanpa suara.
Mengukir seulas senyum ketika didalam sedang hancur tidaklah mudah.
Saya hampir frustasi.
Dan saya tidak ingin kalian.
Tidak akan ada lagi kepercayaan kepada kalian.
Sekalipun ada hanya formalitas kehidupan semata."


Selasa, 12 April 2016

Ajari Aku untuk Membencimu, Kak

Hari ini memang cukup menjadi hari yang terlelah. Menahan semua perasaan yang kutahan seharian tidaklah mudah untuk dilakukan selama satu tahun lebih. Mataku tak sejalan dengan pikiranku saat ini. Membayangkan suatu hari nanti aku akan merasa kehilangan. Sangat sangat kehilangan.

Kak, kau beruntung. Aku baru merasakan rasa kagum pertamaku hanya kepadamu. Jelas sekali, bahwa aku hanya kagum kepadamu. Ingat hanya sekedar itu saja. Tapi maaf, aku tidak bisa lagi mengendalikan perasaanku sendiri.

Hari ke hari. Aku semakin sering memperhatikanmu. Aku hanya ingin melihatmu saja. Itu sudah lebih dari cukup. Berbicara denganmu? Bukan harapanku. Tapi kau sudah membuat semuanya berubah. Atau aku lah yang salah, telah membuat perubahan pada perasaanku sendiri.

Suatu rasa tak mau kehilangan muncul. Tak pernah terduga olehku. Dan tak pernah aku harapkan. Aku benci seperti ini. Seolah-olah aku ingin menjadi lebih daripada hanya sebagai pengagum rahasia.

Aku menjadi tak berani lagi menatapmu. Aku takut berada didekatmu. Aku hanya ingin melihatmu dari kejauhan. Sekalipun itu bersama yang lain aku tak peduli. Tapi sekali lagi. Itu muncul untuk kesekian kalinya. Membayangkan bahwa aku tak kuasa untuk menahannya nanti. Hari yang pasti akan datang. Aku takut hari itu.

Kak, aku tak mau menangis hanya karna seseorang yang aku kagumi sepertimu. Aku tak mau berharap aku dapat mengambil potret diri kita meski itu yang pertama dan yang terakhir. Lebih baik tidak sama sekali, Kak, daripada aku harus menangisinya nanti.

Kak, ajari aku membencimu. Buat aku membencimu lagi. Buat aku menangis dijalan pulang karna kau. Buat aku membencimu, Kak sebelum hari itu datang!

Aku tau kau tak nyaman selalu aku perhatikan. Selalu ada aku ketika kau ada. Kak, menghindarlah lagi seperti sebelumnya yang

pernah kau lakukan itu. Sekali kau pernah melakukannya dan membuat ku teriris. Lakukanlah lagi, Kak!

Aku tak peduli aku akan menangis karna sikap dinginmu. Daripada nantinya kau tak mau bicara denganku. Buatlah aku membencimu. Sangat sangat membencimu.

Aku tak mau menyalahkan waktu. Menyalahkan keadaan karna kita berbeda. Aku sadar karna aku hanya cukup menjadi pengagum rahasia tanpa ada rasa kehilangan.

Sekali lagi. Tolong ajari aku untuk membencimu, Kak.