"Mungkin saya harus menyerah pada hidup saya, membiarkan kalian menginjak-injak saya, mengatakan sesuka hati kalian. Memang benar saya sudah tak layak lagi ada disini. Saya seharusnya tidak pernah bersama kalian. Akan sekuat apapun saya, pada akhirnya saya hanya menjadi yang terbuang dan terabaikan. Mungkin cukup sampai disini saya berpura-pura kuat dihadapan kalian. Saya lelah harus mengukir senyum untuk kalian semua yang tak tahu diri. Saya hancur, berkeping-keping, dan berantakan!
Apakah kalian tidak pernah merasa puas? Anda kurang puas dengan keadaan saya yang seperti ini? Merana, dikelilingi wajah-wajah munafik seperti kalian, berpura-pura peduli sebenarnya Anda sangat acuh, saya sudah hancur! Saya sudah putus asa, dan menyerah dengan hidup saya! Terserah kalian mau bilang apa, tapi ini saya, dan kalian yang membuat saya seperti ini!
Sudah berapa lama saya simpan semua kebencian saya. Berusaha menghapus semua kebencian itu sendiri. Bertahan dengan selengkungan senyum. Tertawa bersama kalian. Tapi kalian tidak pernah tahu bahwa ada luka besar disini! Menganga, dan sangat pedih!
Saya selalu mencoba bertahan. Tetap berdiri meski caci dan maki selalu datang menghujat. Mengubur semua sakit hati itu sendirian. Membalas kalian dengan sebuah senyuman. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Dan saat ini mungkin ujungnya. Saya sudah tidak mampu menahan lagi. Saya lelah berpura-pura. Menjadi kuat dan terhebat. Saya lelah dengan hukum timbal balik yang seperti ini. Saya merasa kosong. Tidak tahu saya harus bagaimana. Saya menjalani hidup seakan-akan hanya formalitas yang dipenuhi dengan kepedihan.
Saya sendiri.
Saya hancur.
Saya berantakan.
Saya lelah jika harus berteriak tanpa suara.
Mengukir seulas senyum ketika didalam sedang hancur tidaklah mudah.
Saya hampir frustasi.
Dan saya tidak ingin kalian.
Tidak akan ada lagi kepercayaan kepada kalian.
Sekalipun ada hanya formalitas kehidupan semata."
