Malam cukup dingin, teriakan-teriakan itu selalu terbayang di memori otak saraf pendengaran ku. Pagi, siang, sore dan malam, tak mengenal waktu, mereka yang egois mementingkan bagaimana keadaan mereka sendiri. Dihadapan ku, dengan telinga dan mata kepala ku sendiri, aku dengar dan aku saksikan bagaimana pertengakaran hebat itu dapat terjadi.
Bertahun-tahun masa kecil ku
diselimuti dengan tangisan air mata. Aku takut. Dimana seorang Ayah yang
seharusnya melindungi ku, malah membuatku terkekang dan dihantui oleh rasa
takut karena sikap egoisnya.
Tamparan,
pukulan, caci dan maki, sudah menjadi makanan ku sehari-hari dimasa kecil.
Perlakuannya terhadap ku, seolah-olah aku ini hanya seekor binatang dimatanya.
Rasa sakit di kulit-kulit ku, sudah biasa aku tahan sekian lamanya. Dan sakit
dibatin ku, tak perlu lagi kau tanyakan.
.jpg)