Malam cukup dingin, teriakan-teriakan itu selalu terbayang di memori otak saraf pendengaran ku. Pagi, siang, sore dan malam, tak mengenal waktu, mereka yang egois mementingkan bagaimana keadaan mereka sendiri. Dihadapan ku, dengan telinga dan mata kepala ku sendiri, aku dengar dan aku saksikan bagaimana pertengakaran hebat itu dapat terjadi.
Bertahun-tahun masa kecil ku
diselimuti dengan tangisan air mata. Aku takut. Dimana seorang Ayah yang
seharusnya melindungi ku, malah membuatku terkekang dan dihantui oleh rasa
takut karena sikap egoisnya.
Tamparan,
pukulan, caci dan maki, sudah menjadi makanan ku sehari-hari dimasa kecil.
Perlakuannya terhadap ku, seolah-olah aku ini hanya seekor binatang dimatanya.
Rasa sakit di kulit-kulit ku, sudah biasa aku tahan sekian lamanya. Dan sakit
dibatin ku, tak perlu lagi kau tanyakan.
Aku kira itu hanya akan terjadi dimasa kecil ku saja. Ku kira tangisan malam ku hanya terjadi empat tahun itu. Sayangnya, penafsiran ku salah. Aku sudah tergolong hampir dewasa. Meleraikan mereka, sudah seperti pekerjaan ku dihari-hari. Tetapi, mereka masih bersikap layaknya anak kecil. Berteriak, menangis, bertengkar sampai seisi rumah dan sekitarnya tahu, hanya karena tetek bengek yang tak pernah ada ujungnya, sudah bukan lagi menjadi aib keluarga.
Sekarang,
setelah kau merusak kebahagiaan ku di masa lalu, setelah kau melemparkan
perkataan kasar dihadapanku, melukai kulit-kulit ku sampai berdarah, dan batin
ku menahan tangis, tapi sekarang? Kau mencoba untuk menyentuh tangan ku,
mengelus lembut kepala ku, tapi selalu aku tangkis itu semua. Jangan harap kau
bisa menyentuh kulit-kulit bekas luka ku dulu. Jangan pernah berharap kau
mendapatkan sisa-sisa hatiku yang luka. Terlalu sakit aku dengan semua cara mu.
Cara mu yang tidak sama sekali mencerminkan seorang Ayah.
Kini aku memilih
untuk sendiri. Meghindari semua yang dulu pernah aku alami. Aku ingin mengobati
semuanya. Mencari sesuatu yang tak pernah ku dapat dahulu. Sampai akhirnya aku
menemukan seseorang. Seseorang yang mampu membuatku melupakan rasa perih dan
sakit ku. Seseorang yang hadir disaat aku tersungkur. Menghibur ku dengan
guyon-guyon yang Ia miliki. Sampai akhirnya aku merasakan sesuatu yang aneh,
yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasakan kenyamanan jika aku ada
disisinya. Aku merasa, aku tidak ingin memberi jarak yang terlalu jauh
dengannya. Sampai suatu hari kita membuat janji untuk saling percaya satu sama
lain.
Tapi kepercayaan
itu tidak selamanya dapat dipercaya. Suatu hari, disaat aku akan menghampirinya,
memberi hadiah dihari ulang tahun nya. Tiba-tiba langkah ku terhenti. Mata ku
melihat nya langsung. Tapi aku tetap tidak percaya dengan apa yang aku lihat,
karna aku tahu, Ia tidak akan melakukan ini kepada ku. Seseorang bersamanya,
dan memberi pelukan yang menjijikan terhadapnya dengan membawa kotak yang
terbungkus rapi dengan warna warni kertas kado. Jadi, apakah ini tujuan aku
dilahirkan?
Hari berlalu,
dan hari itu pun sudah menjadi kenangan terburuk ku. Aku lebih memilih untuk
melakukan semuanya sendiri. Aku tidak percaya lagi terhadap orang lain. Karena
beban akibat masalah kedua orang tua ku juga, aku tumbuh menjadi anak yang
sedikit berbeda dari pada anak-anak biasanya. Aku selalu menghindari keramaian.
Disudut tempat, sendiri, menikmati sisa-sisa hidup, aku hanya berbicara dengan
diriku sendiri. Tak ada seorang teman. Setidaknya aku bisa lupa dengan apa yang
terjadi dirumah dan apa yang terjadi pada ku dihari kemarin.
Dari kebiasaan
ku itu, satu persatu orang lain memulai mengejek ku. Memaki, membicarakan ku
dihadapanku, menjadi pemandangan yang biasa bagi ku. Ku hiraukan, mereka
semakin menjadi. Bagi mereka mengejekku dengan perkataan sudah lah tidak
berguna, mencaci dan memaki, bahkan terkadang bermain tangan dengan ku sudah
menjadi favorit mereka terhadap ku. Setiap hari, ya hampir setiap hari aku
mendapatkan perlakuan seperti itu dimana aku berada dan dimana mereka berada.
Aku muak! aku
muak harus hidup dengan penuh cacian dan maki. Aku muak harus hidup tanpa
seutas kasih sayang. Aku lelah mendengar mereka berteriak dihadapan ku.
Melemparkan perkataan kasar yang sering aku dengar. Memberi harapan yang tak
pernah pasti. Aku muak dengan hidup ku! Tuhan, apa seperti ini aku harus hidup?
Aku merasa sendiri. Karena aku merasa, orang lain tak pernah menjadi seperti
ku. Dimana letak keadilan Mu? Aku lelah menanti kebahagian yang tak kunjung
datang. Aku lelah menjadi diriku! Mungkin ini semua akan berakhir. Aku hanya
duduk manis tanpa ada yang tahu, dan menanti hari akhir ku.
------------------------------------------------------------------------
Hai kawan, aku disini
memperhatikan mu dari kejauhan. Mendengar dan mencerna semua keluhan mu.
Mengamati semua yang terjadi kepada mu. Mencoba menterjemahkan arti pandangan
mata mu. Aku tahu, disana sangat terlihat. Perih, sakit, luka, beban, semua
sangat jelas terlihat dimata mu.
Hai
kawan, sadarlah setiap orang memiliki masalahnya sendiri. Setiap orang memiliki
bebannya sendiri. Sama seperti mu, masalah hidup, beban, menjadi makanan di
hari-harinya.
Hai
kawan, sadarlah setiap orang juga pernah merasakan perihnya luka. Hanya saja,
mereka lebih tidak tau apa-apa lagi bagaimana cara mengatasi lukanya. Mereka
yang sering menertawakan mu, mengejek mu, bahkan melakukan mu lebih kejam lagi,
itu lah mereka yang memiliki perih yang lebih dalam. Namun mereka buta akan
cara hidup, mereka bingung bagaimana cara menghilangkan rasa sakitnya, sampai
akhirnya, mereka melampiaskan masalah hidupnya terhadap orang lain. Dan
bersabar lah jika orang yang menjadi sasarannya adalah kau. Tapi, mereka lebih
baik dari mu, jika kau berfikir semuanya akan berakhir dan berputus asa.
Hai
kawan, dunia ini luas, dan hidup tidak hanya menyangkut satu permasalahan. Jika
karna satu masalah saja kau langsung tumbang, bagaimana kalau kau harus menghadapi beribu-ribu masalah? Kuat lah,
yakin lah, setiap masalah memiliki jalannya masing-masing.
Kawan,
jangan lah pernah kau menyalahkan hidup mu,
dirimu, atau bahkan kau mencaci
Tuhan mu karena semua tak sejalan dengan apa yang kau mau. Tuhan lebih tahu apa yang harus kau dapat. Tuhan
bukan lah tidak adil. Dia hanya memberi mu kerumitan dibalik kebahagian yang
sesungguhnya.
Tenang,
dan jalani lah. Senyum dan semangat kau pasti mampu melewati semuanya. Mereka
yang menyakitimu, suatu saat akan membutuhkan peluk kasih mu. Disana kau tidak
sendiri. Aku, mereka, orang-orang yang kau sayangi dan mereka yang menyayangi
mu, selalu hadir tanpa kau ketahui. Yakinlah, Kau tak sendiri.
Kami,
aku, kau, dan mereka. Marilah bernyanyi........
Dalam kerasnya dunia
Tersenyumlah…
Bila kau pun harus… berputus asa
Berpikir semua kan berakhir
Tersenyumlah…
Kau tak sendiri aku disini
menantimu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri aku disini
Berikan tanganmu mari kita hadapi
Hidup memang tak selalu seperti yang kau inginkan
Yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang dan tetap melangkah kau tak sendiri..
Perhatikan sekitar coba kau amati
Hidup bukan sekedar tentang patah hati
Dan semua yang terjadi ambil hikmahnya om Iwan pun berkata “ambil indahnya.”
Kau tak sendiri aku disini
Memanggilmu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri kami disini
Raihlah tanganku bersama kita lewati
Hidup memang tak selalu seperti yang kau inginkan
Yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang teruskan melangkah kau tak sendiri
Hidup memang tak selalu seperti yang kita inginkan
Yang kita harapkan
Hadapilah dengan hati tenang
Yakinkan dirimu kau tak sendiri yeaahhhhh
Na na na na na na na na na na na na na na na na
Inspired by:
Her Life & Video Music Official "Kau Tak Sendiri" By Bondan Prakoso
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar