Sabtu, 13 Desember 2014

Kau Tak Sendiri



Malam cukup dingin, teriakan-teriakan itu selalu terbayang di memori otak saraf pendengaran ku. Pagi, siang, sore dan malam, tak mengenal waktu, mereka yang egois mementingkan bagaimana keadaan mereka sendiri. Dihadapan ku, dengan telinga dan mata kepala ku sendiri, aku dengar dan aku saksikan bagaimana pertengakaran hebat itu dapat terjadi.


Bertahun-tahun masa kecil ku diselimuti dengan tangisan air mata. Aku takut. Dimana seorang Ayah yang seharusnya melindungi ku, malah membuatku terkekang dan dihantui oleh rasa takut karena sikap egoisnya.

Tamparan, pukulan, caci dan maki, sudah menjadi makanan ku sehari-hari dimasa kecil. Perlakuannya terhadap ku, seolah-olah aku ini hanya seekor binatang dimatanya. Rasa sakit di kulit-kulit ku, sudah biasa aku tahan sekian lamanya. Dan sakit dibatin ku, tak perlu lagi kau tanyakan.
        

Aku kira itu hanya akan terjadi dimasa kecil ku saja. Ku kira tangisan malam ku hanya terjadi empat tahun itu. Sayangnya, penafsiran ku salah. Aku sudah tergolong hampir dewasa. Meleraikan mereka, sudah seperti pekerjaan ku dihari-hari. Tetapi, mereka masih bersikap layaknya anak kecil. Berteriak, menangis, bertengkar sampai seisi rumah dan sekitarnya tahu, hanya karena tetek bengek yang tak pernah ada ujungnya, sudah bukan lagi  menjadi aib keluarga.

Sekarang, setelah kau merusak kebahagiaan ku di masa lalu, setelah kau melemparkan perkataan kasar dihadapanku, melukai kulit-kulit ku sampai berdarah, dan batin ku menahan tangis, tapi sekarang? Kau mencoba untuk menyentuh tangan ku, mengelus lembut kepala ku, tapi selalu aku tangkis itu semua. Jangan harap kau bisa menyentuh kulit-kulit bekas luka ku dulu. Jangan pernah berharap kau mendapatkan sisa-sisa hatiku yang luka. Terlalu sakit aku dengan semua cara mu. Cara mu yang tidak sama sekali mencerminkan seorang Ayah. 

Kini aku memilih untuk sendiri. Meghindari semua yang dulu pernah aku alami. Aku ingin mengobati semuanya. Mencari sesuatu yang tak pernah ku dapat dahulu. Sampai akhirnya aku menemukan seseorang. Seseorang yang mampu membuatku melupakan rasa perih dan sakit ku. Seseorang yang hadir disaat aku tersungkur. Menghibur ku dengan guyon-guyon yang Ia miliki. Sampai akhirnya aku merasakan sesuatu yang aneh, yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasakan kenyamanan jika aku ada disisinya. Aku merasa, aku tidak ingin memberi jarak yang terlalu jauh dengannya. Sampai suatu hari kita membuat janji untuk saling percaya satu sama lain. 
 
Tapi kepercayaan itu tidak selamanya dapat dipercaya. Suatu hari, disaat aku akan menghampirinya, memberi hadiah dihari ulang tahun nya. Tiba-tiba langkah ku terhenti. Mata ku melihat nya langsung. Tapi aku tetap tidak percaya dengan apa yang aku lihat, karna aku tahu, Ia tidak akan melakukan ini kepada ku. Seseorang bersamanya, dan memberi pelukan yang menjijikan terhadapnya dengan membawa kotak yang terbungkus rapi dengan warna warni kertas kado. Jadi, apakah ini tujuan aku dilahirkan?

Hari berlalu, dan hari itu pun sudah menjadi kenangan terburuk ku. Aku lebih memilih untuk melakukan semuanya sendiri. Aku tidak percaya lagi terhadap orang lain. Karena beban akibat masalah kedua orang tua ku juga, aku tumbuh menjadi anak yang sedikit berbeda dari pada anak-anak biasanya. Aku selalu menghindari keramaian. Disudut tempat, sendiri, menikmati sisa-sisa hidup, aku hanya berbicara dengan diriku sendiri. Tak ada seorang teman. Setidaknya aku bisa lupa dengan apa yang terjadi dirumah dan apa yang terjadi pada ku dihari kemarin.

Dari kebiasaan ku itu, satu persatu orang lain memulai mengejek ku. Memaki, membicarakan ku dihadapanku, menjadi pemandangan yang biasa bagi ku. Ku hiraukan, mereka semakin menjadi. Bagi mereka mengejekku dengan perkataan sudah lah tidak berguna, mencaci dan memaki, bahkan terkadang bermain tangan dengan ku sudah menjadi favorit mereka terhadap ku. Setiap hari, ya hampir setiap hari aku mendapatkan perlakuan seperti itu dimana aku berada dan dimana mereka berada.
 
Aku muak! aku muak harus hidup dengan penuh cacian dan maki. Aku muak harus hidup tanpa seutas kasih sayang. Aku lelah mendengar mereka berteriak dihadapan ku. Melemparkan perkataan kasar yang sering aku dengar. Memberi harapan yang tak pernah pasti. Aku muak dengan hidup ku! Tuhan, apa seperti ini aku harus hidup? Aku merasa sendiri. Karena aku merasa, orang lain tak pernah menjadi seperti ku. Dimana letak keadilan Mu? Aku lelah menanti kebahagian yang tak kunjung datang. Aku lelah menjadi diriku! Mungkin ini semua akan berakhir. Aku hanya duduk manis tanpa ada yang tahu, dan menanti hari akhir ku.   


------------------------------------------------------------------------


Hai kawan, aku disini memperhatikan mu dari kejauhan. Mendengar dan mencerna semua keluhan mu. Mengamati semua yang terjadi kepada mu. Mencoba menterjemahkan arti pandangan mata mu. Aku tahu, disana sangat terlihat. Perih, sakit, luka, beban, semua sangat jelas terlihat dimata mu.

Hai kawan, sadarlah setiap orang memiliki masalahnya sendiri. Setiap orang memiliki bebannya sendiri. Sama seperti mu, masalah hidup, beban, menjadi makanan di hari-harinya.

Hai kawan, sadarlah setiap orang juga pernah merasakan perihnya luka. Hanya saja, mereka lebih tidak tau apa-apa lagi bagaimana cara mengatasi lukanya. Mereka yang sering menertawakan mu, mengejek mu, bahkan melakukan mu lebih kejam lagi, itu lah mereka yang memiliki perih yang lebih dalam. Namun mereka buta akan cara hidup, mereka bingung bagaimana cara menghilangkan rasa sakitnya, sampai akhirnya, mereka melampiaskan masalah hidupnya terhadap orang lain. Dan bersabar lah jika orang yang menjadi sasarannya adalah kau. Tapi, mereka lebih baik dari mu, jika kau berfikir semuanya akan berakhir dan berputus asa.

Hai kawan, dunia ini luas, dan hidup tidak hanya menyangkut satu permasalahan. Jika karna satu masalah saja kau langsung tumbang, bagaimana kalau kau harus  menghadapi beribu-ribu masalah? Kuat lah, yakin lah, setiap masalah memiliki jalannya masing-masing.

Kawan, jangan lah pernah kau menyalahkan hidup mu, 
dirimu, atau bahkan kau mencaci Tuhan mu karena semua tak sejalan dengan apa yang kau mau. Tuhan  lebih tahu apa yang harus kau dapat. Tuhan bukan lah tidak adil. Dia hanya memberi mu kerumitan dibalik kebahagian yang sesungguhnya. 

Tenang, dan jalani lah. Senyum dan semangat kau pasti mampu melewati semuanya. Mereka yang menyakitimu, suatu saat akan membutuhkan peluk kasih mu. Disana kau tidak sendiri. Aku, mereka, orang-orang yang kau sayangi dan mereka yang menyayangi mu, selalu hadir tanpa kau ketahui. Yakinlah, Kau tak sendiri.
       
Kami, aku, kau, dan mereka. Marilah bernyanyi........

Disaat kau merasa hidup sendiri
Dalam kerasnya dunia
Tersenyumlah…

Bila kau pun harus… berputus asa
Berpikir semua kan berakhir
Tersenyumlah…

Kau tak sendiri aku disini
menantimu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri aku disini
Berikan tanganmu mari kita hadapi

Hidup memang tak selalu seperti yang kau inginkan
Yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang dan tetap melangkah kau tak sendiri..

Perhatikan sekitar coba kau amati
Hidup bukan sekedar tentang patah hati
Dan semua yang terjadi ambil hikmahnya om Iwan pun berkata “ambil indahnya.”

Kau tak sendiri aku disini
Memanggilmu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri kami disini
Raihlah tanganku bersama kita lewati

Hidup memang tak selalu seperti yang kau inginkan
Yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang teruskan melangkah kau tak sendiri

Hidup memang tak selalu seperti yang kita inginkan
Yang kita harapkan
Hadapilah dengan hati tenang
Yakinkan dirimu kau tak sendiri yeaahhhhh
Na na na na na na na na na na na na na na na na



Inspired by: 
Her Life & Video Music Official "Kau Tak Sendiri" By Bondan Prakoso

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tidak ada komentar:

Posting Komentar