Hai,
kawan... Bagaimana dengan kabar mu? Aku tahu, ini adalah hal yang tersulit
bagimu, tentunya juga bagiku. Aku tahu, selama ini kita sudah tak pernah
bersapa salam. Dan disaat aku diam, kau juga ikut diam, membuat semua terhanyut dengan suasana tak
saling mengenal.
Kawan....
Jangan pernah memikirkannya “Mengapa?” Jangan pernah menguras tenagamu untuk
berfikir tentang semua ini. Karna sepenuhnya aku belum menemukan kata yang
tepat untuk menjadikannya sebuah alasan. Untuk aku ungkapkan, supaya kau dan
mereka semua mengerti. Tetapi maaf, sekalipun aku menemukan sebuah alasan
maupun beribu – ribu alasan aku tidak akan sanggup untuk mengucapkannya
dihadapanmu, mulai sejak itu.....
Ketika
sebuah berita tersebar oleh angin. Berawal dari satu mulut ke mulut yang lain.
Layaknya seperti dongeng yang terkadang beragam versi tanpa tahu kebenarannya
yang mana. Tapi aku tak peduli aku mendengar dari mulut yang mana. Aku tak
peduli kebenarannya seperti apa. Yang hanya aku pedulikan adalah itu tentang
Kau, kawan. Ya, tentang kau.
Gejolak
amarah, sedih, kecewa, aku tidak mengerti lagi mana yang berhasil menguasai
diriku pada saat itu. Bahkan aku tidak mengerti apa yang harus aku rasakan.
Hanya ada sebuah tekanan besar menggucang diriku dibagian dalam. Dan tanpa
sadar aku membuat bagian wajahku membasah.
Mulai
sejak itulah aku memutuskan untuk menjadi diam. Bukan maksud ku untuk
menghindar. Tidak ada alasan yang akurat aku harus menghidarimu. Hanya saja, mulai
sejak itu aku tidak pernah berani lagi bertatap langsung dengan mu. Melihat
diriku ada dipantulan bola matamu. Berucap dengan hubungan pertemanan yang
cukup dekat. Kurasa aku harus mengakhirinya.
Aku sadar
aku hanya sebatas kawan seperjuanganmu. Aku juga tidak mau kau dan orang lain
memandang aku ini egois. Tapi bukan seperti itu alasanku. Mungkin cukup aku
saja yang mengerti.
Dan hei,
kawan... Aku ingin bertanya kepadamu. Dimana komitmen yang kau bangun dahulu?
Komitmen yang selalu kau banggakan, dan membuat orang lain berfikir
berulang kali untuk melakukannya. Aku kecewa, setidaknya jika kau mengucapkan
sepatah kata tentangmu pada saat itu, mungkin aku masih bisa mengerti. Aku
tidak percaya, orang sekokoh sepertimu mampu menumbangkan prinsip hidupmu
sendiri.
Sedangkan
saat ini, hanya lorong sekolah lah yang menjadi saksi bisu. Saksi yang tak
mampu berucap disaat kita bertemu mata. Ketika kurang dari satu meter kita
bersandingan. Hanya lorong – lorong sekolah yang mampu menyimpan semuanya. Menyimpan
perasaan yang aku rasakan ketika aku melihatmu. Perasaan kecewa yang tak mampu
aku tunjukkan langsung didepan kalian. Orang lain menatap kita seperti orang
asing yang tak saling mengenal satu sama lain.
Maaf, aku
senang seperti ini. Aku merasa nyaman seperti ini. Aku tahu ini langkah yang
salah yang aku ambil. Jangan pernah berkata seperti itu, aku sadar diri. Jangan
mencoba membawa kepercayaan ketika kau sendiri tak mampu memegang prinsipmu. Dan
jangan pernah mencoba meminta maaf. Bahkan berkata untuk mengibarkan bendera
putih, kita teman bukan lawan. Jadi tolong biasakanlah seperti ini. Anggap aku
hanya orang yang kau kenal hanya sebatas nama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar