Jumat, 16 Oktober 2015

Kata – Kata yang Tak Tersampaikan




Hai, kawan... Bagaimana dengan kabar mu? Aku tahu, ini adalah hal yang tersulit bagimu, tentunya juga bagiku. Aku tahu, selama ini kita sudah tak pernah bersapa salam. Dan disaat aku diam, kau juga ikut diam,  membuat semua terhanyut dengan suasana tak saling mengenal.


Kawan.... Jangan pernah memikirkannya “Mengapa?” Jangan pernah menguras tenagamu untuk berfikir tentang semua ini. Karna sepenuhnya aku belum menemukan kata yang tepat untuk menjadikannya sebuah alasan. Untuk aku ungkapkan, supaya kau dan mereka semua mengerti. Tetapi maaf, sekalipun aku menemukan sebuah alasan maupun beribu – ribu alasan aku tidak akan sanggup untuk mengucapkannya dihadapanmu, mulai sejak itu.....


Ketika sebuah berita tersebar oleh angin. Berawal dari satu mulut ke mulut yang lain. Layaknya seperti dongeng yang terkadang beragam versi tanpa tahu kebenarannya yang mana. Tapi aku tak peduli aku mendengar dari mulut yang mana. Aku tak peduli kebenarannya seperti apa. Yang hanya aku pedulikan adalah itu tentang Kau, kawan. Ya, tentang kau.


Gejolak amarah, sedih, kecewa, aku tidak mengerti lagi mana yang berhasil menguasai diriku pada saat itu. Bahkan aku tidak mengerti apa yang harus aku rasakan. Hanya ada sebuah tekanan besar menggucang diriku dibagian dalam. Dan tanpa sadar aku membuat bagian wajahku membasah.


Mulai sejak itulah aku memutuskan untuk menjadi diam. Bukan maksud ku untuk menghindar. Tidak ada alasan yang akurat aku harus menghidarimu. Hanya saja, mulai sejak itu aku tidak pernah berani lagi bertatap langsung dengan mu. Melihat diriku ada dipantulan bola matamu. Berucap dengan hubungan pertemanan yang cukup dekat. Kurasa aku harus mengakhirinya. 


Aku sadar aku hanya sebatas kawan seperjuanganmu. Aku juga tidak mau kau dan orang lain memandang aku ini egois. Tapi bukan seperti itu alasanku. Mungkin cukup aku saja yang mengerti.


Dan hei, kawan... Aku ingin bertanya kepadamu. Dimana komitmen yang kau bangun dahulu? Komitmen yang selalu kau banggakan, dan membuat orang lain berfikir berulang kali untuk melakukannya. Aku kecewa, setidaknya jika kau mengucapkan sepatah kata tentangmu pada saat itu, mungkin aku masih bisa mengerti. Aku tidak percaya, orang sekokoh sepertimu mampu menumbangkan prinsip hidupmu sendiri.


Sedangkan saat ini, hanya lorong sekolah lah yang menjadi saksi bisu. Saksi yang tak mampu berucap disaat kita bertemu mata. Ketika kurang dari satu meter kita bersandingan. Hanya lorong – lorong sekolah yang mampu menyimpan semuanya. Menyimpan perasaan yang aku rasakan ketika aku melihatmu. Perasaan kecewa yang tak mampu aku tunjukkan langsung didepan kalian. Orang lain menatap kita seperti orang asing yang tak saling mengenal satu sama lain.


Maaf, aku senang seperti ini. Aku merasa nyaman seperti ini. Aku tahu ini langkah yang salah yang aku ambil. Jangan pernah berkata seperti itu, aku sadar diri. Jangan mencoba membawa kepercayaan ketika kau sendiri tak mampu memegang prinsipmu. Dan jangan pernah mencoba meminta maaf. Bahkan berkata untuk mengibarkan bendera putih, kita teman bukan lawan. Jadi tolong biasakanlah seperti ini. Anggap aku hanya orang yang kau kenal hanya sebatas nama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar