Sabtu, 13 Desember 2014

Kau Tak Sendiri



Malam cukup dingin, teriakan-teriakan itu selalu terbayang di memori otak saraf pendengaran ku. Pagi, siang, sore dan malam, tak mengenal waktu, mereka yang egois mementingkan bagaimana keadaan mereka sendiri. Dihadapan ku, dengan telinga dan mata kepala ku sendiri, aku dengar dan aku saksikan bagaimana pertengakaran hebat itu dapat terjadi.


Bertahun-tahun masa kecil ku diselimuti dengan tangisan air mata. Aku takut. Dimana seorang Ayah yang seharusnya melindungi ku, malah membuatku terkekang dan dihantui oleh rasa takut karena sikap egoisnya.

Tamparan, pukulan, caci dan maki, sudah menjadi makanan ku sehari-hari dimasa kecil. Perlakuannya terhadap ku, seolah-olah aku ini hanya seekor binatang dimatanya. Rasa sakit di kulit-kulit ku, sudah biasa aku tahan sekian lamanya. Dan sakit dibatin ku, tak perlu lagi kau tanyakan.
        

Dimana Dirimu yang Dulu?

Waktu terus berjalan, memaksa ku untuk tetap melanjutkan mimpi-mimpi ku. Waktu juga yang memisahkan cerita kita, yang memberi jarak diantara cerita hidup kita.

Minggu, 07 Desember 2014

Setidaknya, Hargailah Usahaku

Terimakasih sudah membuat beberapa potongan hati di hari ini
Terimakasih sudah mengganggu fokus ku sampai saat ini
Terimakasih sudah menghambat mimpi indah ku dimasa depan
Terimakasih atas ucapan pahit yang kau tunjukkan kepadaku secara tidak langsung
Terimakasih sudah merangkai kata tajam yang mampu membuat batin ini menangis
Terimakasih untuk semua yang kau lakukan pada ku hari ini, entah itu kau sengaja ataupun tidak, ini cukup berkesan bagi ku....